Ribuan Langkah Menuju Satu Cahaya

 Penulis: Sigit Dwi Riskiyanto

Langkah-langkah itu datang dari arah yang tidak sama. Ada yang berangkat sejak fajar masih basah oleh embun pagi, ada yang tiba ketika matahari mulai condong dan bayangan pohon asam memanjang di tepi jalan. Ada yang melangkah dengan sandal tipis yang sudah aus, ada pula yang turun dari kendaraan sambil menepuk debu di sarungnya. Namun di balik perbedaan itu, arah mereka satu yakni menuju cahaya yang tidak bisa ditunjuk oleh jari, tetapi bisa dirasakan oleh hati yang jujur.

Langit malam menggantungkan bulan dengan cahaya pucat. Bukan bulan yang gaduh, melainkan bulan yang seolah sedang menahan nafas, mendengarkan gumam do’a dari bumi. Angin berhembus, membawa aroma tanah basah, sisa hujan sore yang turun sebentar, seperti isyarat bahwa langit pun ikut membersihkan diri. Ini bulan yang kerap dilupakan manusia, meski di sanalah amal-amal mereka diangkat, dan do’a-do’a digiring menuju pintu langit.

Aku adalah salah satu dari ribuan langkah itu.

Aku datang membawa kelelahan yang tidak sepenuhnya berasal dari perjalanan fisik. Ada lelah yang lebih tua dan lebih dalam, yakni lelah karena terlalu sering menunda taubat, lelah karena tahu jalan pulang, namun memilih singgah terlalu lama di warung dunia, lelah karena hati telah lama paham, tetapi nafsu selalu minta diberi waktu.

Sepanjang jalan, aku melihat orang-orang berjalan berkelompok. Ada yang bersenda gurau dengan logat kampung yang akrab di telinga, ada yang diam sambil meremas tasbih kayu yang menghitam oleh sentuhan bertahun-tahun. Beberapa ibu tua berjalan pelan, diapit anak-anaknya, sarung mereka terseret sedikit, namun wajahnya menyimpan keteguhan yang tidak bisa dibeli oleh usia muda.

Di tengah lautan manusia yang bergerak perlahan itu, aku menyadari bahwa tidak ada wajah yang benar-benar asing. Setiap orang membawa kisah yang berbeda, luka yang tak serupa, namun mata mereka memantulkan kerinduan yang sama. Kerinduan kepada sesuatu yang lebih tinggi dari dunia dan lebih lembut dari penilaian manusia.

Aku teringat sebuah kalimat yang pernah kudengar di langgar kecil dekat rumah, dari seorang alim yang suaranya parau dimakan usia: ”manusia itu sedang berjalan menuju Allah. Ada yang berlari, ada yang tertatih, dan ada pula yang terseret oleh kasih sayang-Nya”. Mungkin aku termasuk yang terakhir, yakni yang terseret, bukan karena layak, tetapi karena Allah Maha Pengasih.

Di tempat tujuan, orang-orang duduk rapat di atas tikar dan tanah yang dingin. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, tidak ada yang sibuk mencari posisi depan. Semua sejajar, semua sama-sama hamba. Sarung dilipat rapi, peci dilepas lalu dipasang kembali, seolah adab lebih penting daripada kenyamanan. Tanah yang diinjak terasa hidup, seperti menyimpan jejak langkah para pencari sebelum kami, para kiyai kampung, para santri sepuh, dan orang-orang sederhana yang sepanjang hidupnya hanya tahu cara bersujud.

Sunyi justru terasa semakin pekat di tengah kerumunan itu. Sunyi yang tidak membuat takut, melainkan menenangkan. Seperti sunyi di antara dua ketukan kentongan malam, saat kampung terlelap dan hanya do’a yang berjaga.

Lalu dzikir mulai dilantunkan.

Awalnya lirih, seperti gumaman wirid selepas magrib di surau-surau kampung. Kemudian menyatu, mengalir, dan akhirnya bergulung seperti ombak di pantai utara yang sabar namun tak pernah berhenti. Suara itu tidak hanya keluar dari mulut, tetapi dari dada, dari luka-luka lama, dari rindu yang selama ini hanya dipendam dalam diam.

“Laa ilaaha illallah.... Laa ilaaha illallah….”

Kalimat itu disebut dengan langgam yang akrab di telinga orang-orang desa, tanpa irama berlebihan, tanpa nada yang dibuat-buat. Hanya kejujuran yang berulang-ulang. Seolah setiap yang hadir sedang berkata: ”Engkau tahu segalanya tentangku, dan aku tidak ingin lagi bersembunyi”.

Aku teringat qoul al-Imam al-Ghazali yang pernah kubaca di kitab lusuh milik ustadz-ku: ”dzikir bukan sekadar menyebut nama Allah, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa engkau sedang berada di hadapan-Nya”. Dan malam itu, aku benar-benar merasa sedang duduk di hadapan-Nya, seperti santri kecil yang menunduk di depan gurunya, takut, sekaligus rindu.

Tidak ada nama yang disebut, namun kehadirannya terasa. Seorang yang telah pergi dari pandangan, namun ajarannya masih berjalan di antara manusia. Seorang yang dawuh-dawuhnya masih diulang di serambi rumah, di langgar kecil, dan di tengah sawah saat para petani beristirahat. Aku tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah mencium tangannya, tidak pernah mendengar langsung suaranya. Namun anehnya, aku merasa seperti sedang pulang kepada seseorang yang mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri.

Orang-orang menyebut sosok seperti itu dengan berbagai sebutan: guru, sesepuh, panutan. Namun bagiku, ia adalah bukti bahwa cinta kepada Allah bisa diwariskan, bahwa iman bisa hidup dari mulut ke mulut, dari adab ke adab. Rasulullah bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi. Warisan itu bukan harta, bukan bangunan megah, melainkan arah dan keteladanan. Dan malam itu, arah itu terasa jelas.

Tangis pun pecah tanpa aba-aba. Tidak ada yang malu, tidak ada yang merasa perlu menahannya. Air mata jatuh begitu saja, seperti hujan kecil yang sering turun tiba-tiba di kampung, yang membasahi tanah tanpa suara.

Aku pun menangis. Bukan karena kisah sedih, bukan karena ingatan pahit. Aku menangis karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku jujur kepada Allah. Aku tidak sedang berpura-pura alim, tidak pula berusaha tampak shaleh. Aku hanya berkata dalam hati, dengan bahasa paling sederhana yang kupunya: “Gusti, kulo kebak salah.”

”Bukankah Allah sendiri yang berfirman agar hamba-hamba-Nya yang melampaui batas terhadap diri mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya?”, Ayat itu terasa seperti turun kembali malam itu, bukan ke langit, melainkan ke dada. Seolah Allah sedang menepuk bahu kami satu per satu, seolah berkata bahwa pintu-Nya masih terbuka.

Aku menoleh ke sekeliling. Ada anak muda dengan mata sembab, kaosnya basah oleh keringat dan air mata. Ada orang tua dengan tubuh renta, punggungnya membungkuk, namun tangannya terangkat tinggi-tinggi. Ada perempuan-perempuan yang duduk rapi, bibirnya komat-kamit membaca shalawat, wajahnya teduh seperti halaman rumah selepas disapu.

Mereka datang dari jalan hidup yang berbeda. Ada yang datang dari taubat panjang, ada yang datang karena ikut rombongan, ada pula yang datang karena dorongan yang tak mampu mereka jelaskan dengan kata-kata. Namun semua langkah itu bertemu pada satu tujuan yakni ”cahaya”.Cahaya yang tidak menyilaukan, tetapi menuntun. Cahaya yang tidak menjanjikan gemerlap dunia, tetapi menaw

arkan ketenangan yang menyejukkan jiwa. Seorang alim dikampungku pernah berkata bahwa jalan menuju Allah itu hanya satu, akantetapi manusia datang dari arah yang berbeda-beda. Dan dimalam itu, aku melihat kebenaran kalimat itu hidup, bernafas dalam dzikir dan air mata.

Saat do’a dipanjatkan bersama, udara terasa berat. Seolah setiap kalimat harus menembus langit yang penuh catatan. Aku menadahkan tangan, tangan yang pernah digunakan untuk hal-hal yang tak pantas, kini gemetar meminta ampun. Aku teringat sabda Rasulullah bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, akantetapi melihat hati dan amal. Maka aku berharap, jika pun amalku sedikit dan berantakan, setidaknya hatiku sedang dilihat dalam keadaan paling jujur.

Ketika langkah-langkah itu mulai berpisah, tidak ada yang benar-benar pergi. Orang-orang saling menyalami, mengucap salam dengan senyum sederhana, seperti tetangga yang pulang dari kenduri. Sesuatu tertinggal di sana, dan sesuatu dibawa pulang. Aku pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang terasa lebih ringan. Bukan karena semua dosa telah dihapus, melainkan karena aku tahu ke mana harus kembali ketika jatuh lagi.

Aku sadar, cahaya itu bukan milik satu malam. Ia harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan di rumah, di jalan, di ladang kehidupan yang sering kali lebih berat daripada perjalanan jauh. Al Imam Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa dunia ini hanyalah perjalanan singkat, dan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal. Maka ambillah bekal secukupnya.

Malam itu, aku merasa telah mengambil bekal. Bukan untuk pamer keshalehan, melainkan untuk melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih sopan dan hati yang lebih tunduk.

Ribuan langkah itu kini telah kembali ke arah masing-masing. Namun satu cahaya tetap menyala di dada mereka yang mau menjaganya. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, jika kelak aku kembali tersesat, aku tahu ke mana aku harus melangkah.

Menuju cahaya yang sama.

Menuju Tuhan yang sama.

Dengan langkah orang kampung yang sederhana, namun dengan hati yang ingin terus pulang.....


Editor: Faiksan

 

 

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim