Manifestasi Al Qur’an Dalam Menjemput Lailatul Qadar

Pada bulan Ramadhan seringkali menjadi bulan yang sangat dinanti-nanti oleh umat Muslim, dalam Tafsir Al-Qusyairi memberikan makna yang indah untuk Ramadhan yakni:

رَمَضَانُ يُرْمِضُ ذُنُوبَ قَوْمٍ، وَيُرْمِضُ رُسُومَ قَوْمٍ، وَشَتَّانَ بَيْنَ مَنْ تُحَرِّقُ ذُنُوبَهُ رَحْمَتُهُ، وَبَيْنَ مَنْ تُحَرِّقُ رُسُومَهُ حَقِيقَتُهُ!شَهْرُ رَمَضَانَ: شَهْرُ مُفَاتَحَةِ الْخِطَابِ، شَهْرُ إِنْزَالِ الْكِتَابِ، شَهْرُ حُصُولِ الثَّوَابِ، شَهْرُ التَّقْرِيبِ وَالْإِيجَابِ.شَهْرُ تَخْفِيفِ الْكُلْفَةِ، شَهْرُ تَحْقِيقِ الزُّلْفَةِ، شَهْرُ نُزُولِ الرَّحْمَةِ، شَهْرُ وُفُورِ النِّعْمَةِ.شَهْرُ النَّجَاةِ، شَهْرُ الْمُنَاجَاةِ

Makna Ramadan yakni, membakar (menghanguskan) dosa-dosa suatu kaum, dan membakar pula jejak-jejak (ketersibukan selain Allah) suatu kaum. Alangkah jauhnya perbedaan antara orang yang dosa-dosanya dibakar oleh Rahmat-Nya, dengan orang yang jejak-jejak (keterikatan lahiriah) dibakar oleh hakikat Allah SWT.

Bulan Ramadan adalah bulan pembukaan berseenggama (dengan Allah), bulan diturunkannya Kitab (Al Qur’an), bulan diperolehnya pahala, bulan pendekatan dan pengabulan, bulan diringankannya beban, bulan terwujudnya kedekatan, bulan turunnya rahmat, bulan melimpahnya nikmat. Bulan keselamatan, bulan munajat (berbisik dan bermesra dalam doa kepada Allah).

Dalam firman Allah yang membahas tentang malam Lailatul Qadar yakni, (Q.S Al-Qadr : 1-5) perspektif Tafsir Lathaiful Isyarah

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ- وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ - لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ - تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ - سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Permulaan makna Basmalah dalam surah Al-Qadr adalah kalimat yang menghadirkan hati para ulama untuk merenungi tanda-tanda (kebesaran Allah), dan membuat hati para ‘Arif (orang yang ma’rifat kepada Allah) mabuk/menyatu dengan ruhani ketika mereka memasuki penyaksian (kehadiran Ilahi).

Golongan pertama, Allah memberikan penglihatan batin, dan dalam penalaran mereka Dia menolong mereka.

Golongan kedua, Allah membuat mereka mabuk oleh minuman cinta-Nya, dan dalam penyaksian keagungan-Nya. Allah membuat mereka tenggelam dalam spiritual

Al Qusyairi menafsiri pada ayat pertama, Pada malam Lailatul Qadar terdapat rahmat bagi para kekasih Allah. Pada malam itu para ahli ibadah menemukan makna dan kedudukan diri mereka, sedangkan para ‘Arif  (ahli ma’rifat) Ber-Tajali, menyaksikan keagungan Allah yang mereka sembah. Sungguh jauh perbedaan antara ‘menemukan nilai’ dan ‘menyaksikan keagungan’: bagi golongan pertama ada penemuan nilai, tetapi nilai untuk dirinya sendiri; sedangkan bagi golongan kedua ada penyaksian keagungan, yakni keagungan Allah yang mereka sembah.

Ayat kedua, bermakna Istifham (pertanyaan untuk mengagungkan), yaitu bentuk pertanyaan yang tidak bertujuan meminta jawaban, tetapi untuk menegaskan betapa agung dan mulianya malam Lailatul Qadar.

Ayat ketiga, Malam itu terasa singkat bagi para pecinta (kekasih Allah), karena pada malam itu mereka tenggelam dalam percakapan mesra dan dialog spiritual dengan-Nya. Sebagaimana dikatakan dalam syair:

يا ليلة من ليالي الدهر --  قابلت فيها بدرها ببدر

ولم تكن عن شَفَقٍ وفجرٍ -- حتى تولت وهي بكر الدهر

Wahai malam dari malam-malam kehidupan, di dalamnya aku bertemu bulan purnama. Malam itu tidak diselubungi merah senja atau cahaya fajar, hingga ia berlalu tetap menawan indah, seperti malam yang belum pernah tersentuh waktu.

Ayat terakhir, (والروح فيها) bahwa yang dimaksud adalah malaikat Jibril, dan ada juga yang berpendapat bahwa ia adalah malaikat yang sangat agung.

(من كل أمر سلام) bersama setiap perbuatan yang diperintahkan Allah kepada mereka terdapat salam (kedamaian) dari-Ku kepada para wali, kekasih Allah SWT. Dan malam itu berlangsung terus hingga terbitnya fajar.

Asbabun Nuzul

أخبرنا أبو بكر التميمي، أخبرنا عبد الله بن حبان، أخبرنا أبو يحيى الرازي، أخبرنا سهل العسكري، أخبرنا يحيى بن أبي زائدة، عن مسلم، عن ابن أبي نجيح ، عن مجاهد قال : ذكر النبي ﷺ رجلا من بني إسرائيل لبس السلاح في سبيل الله ألف شهر، فتعجب المسلمون من ذلك، فأنزل الله تعالى : إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر، ليلة القدر خير من ألف شهر قال : خير من التي لبس فيها السلاح ذلك الرجل

Sesungguhnya Nabi bermimpi melihat Bani Umayyah di atas mimbar kemudian melakukan hal yang tidak baik. Maka turunlah ayat, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar. "Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan." (Al-Qadar: 1-3) Maka Bani Umayyah akan berkuasa setelahmu. Al-Qasim Al-Haddani mengatakan; Kami lalu menghitungnya ternyata benar kekuasaan Bani Umayyah selama seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang.

K.H Achmad Asrori Al Ishaqy dalam kitab beliau menjelaskan tanda-tanda Malam Lailatul Qadar,

الأَمَارَةُ فِي أَنَّ اللَّيْلَةَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ

وَالأَمَارَةُ فِي أَنَّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ أَنْ تَكُونَ لَيْلَةً طَلْقَةً سَمْحَةً، لَا حَارَّةً وَلَا بَارِدَةً. وَقِيلَ: «لَا يُسْمَعُ فِيهَا نُبَاحُ الْكِلَابِ، وَتَطْلُعُ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ كَالطَّسْتِ». وَتَنْكَشِفُ عَجَائِبُهَا لِأَرْبَابِ الْقُلُوبِ وَالْوِلَايَةِ، وَأَهْلِ الطَّاعَةِ لِمَنْ يَشَاءُ اللَّهُ تَعَالَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ عِبَادِهِ، عَلَى قَدْرِ أَحْوَالِهِمْ وَأَقْسَامِهِمْ وَمَنَازِلِهِمْ فِي الْقُرْبِ مِنَ اللَّهِ

Di antara tanda bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar ialah malam tersebut terasa tenang, lapang, dan nyaman, tidak panas dan tidak pula dingin.

Ada pula yang mengatakan: pada malam itu tidak terdengar gonggongan anjing (Bisikan Hasut), dan matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan, seperti sebuah nampan (yang bulat dan lembut cahayanya).

Keajaiban-keajaiban malam itu tersingkap bagi seseorang yang memiliki hati yang hidup dan kedekatan dengan Allah, serta bagi seseorang yang taat, sesuai dengan kehendak Allah dari kalangan hamba-Nya yang beriman. Hal itu terjadi sesuai dengan keadaan mereka, bagian yang diberikan kepada mereka, dan kedudukan mereka dalam kedekatan kepada Allah SWT.

Dalam kitab beliau, K.H Achmad Asrori Al Ishaqy memberikan kejelasan sebab-sebab Allah merahasiakan lima perkara, diantaranya yakni Lailatul Qadar dari ketetapan kapan malam itu terjadi, yakni:

Allah merahasiakan LAILATUL QADAR supaya hamba-hamba-Nya bersungguh dalam ibadah selama setahun, yakni fenomena LAILATUL QADAR terjadi setiap tahun bulan Ramadhan, 10 hari terakhir Ramadhan.

Allah merahasiakan LAILATUL QADAR karena keetika seorang hamba telah bersungguh-sungguh dalam melakukan menanti LAILATUL QADAR pasti meningkatkan keta’atan karena adanya hamba sedang menjemput/meraih malam tersebut membuat Allah senang dengan hamba-Nya.

Allah merahasiakan LAILATUL QADAR agar mereka sangat bersungguh-sungguh dalam mencari, meraih, menjemput LAILATUL QADAR dengan berbagai ibadah yang bernilai pahala berkali lipat, lain halnya jika tertentu pada malam yang tertentu, maka ibadah yang selainya kemungkinan tidak akan dilakukan

Dalam Hadis banyak Riwayat yg berbeda tentang terjadinya malam Lailatul Qadar. Yakni:

(HR. Ahmad dengan sanad yang Shahih), terjadinya malam Lailatul Qadar pada malam 27 Ramadhan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ (رواه احمد باسناد صحيح)

(H.R Muslim) Tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru

هي اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا

(H.R Bukhori) terjadinya malam Lailatul Qadar pada malam 10 Terakhir bulan Ramadhan

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخارى)

 

Oleh : Muhammad Rico Al Kurniawan

Editor: Sigit Dwi Riskiyanto

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim