ISRA’ MI’RAJ DALAM AL QUR’AN
Isra’ dan Mi’raj adalah fenomena dan peristiwa agung, yakni Allah SWT memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta.
Penjelasan Isra’ dan Mi’raj
Menurut penafsiran al-Maraghi. Isra' adalah perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dari Masjidil haram ke Baitul Muqaddas, dan inilah yang disebutkan pada surah al-Isra’ ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mi'raj, yaitu naiknya beliau ke langit dunia (yang terdekat) kemudian ke mustawa, di mana beliau mendengarkan suara goresan pena, dalam perjalanan selanjutnya setelah beliau sampai ke Baitul-Muqaddas. Mi'raj ini tidak disebutkan pada surah ini dan akan diterangkan nanti pada surah An-Najm, yang akan kita bahas secara lebih rinci.
Tinjauan tentang Isra’ dan Mi’raj
Terdapat beberapa hal yang dibicarakan oleh para ulama di sini. Yaitu tentang tempat lara, waktunya, dan apakah lara itu dilakukan dengan ruh dan jasad Nahi saw ataukah dengan ruhnya saja? Kebanyakan ulama berpendapat bahwa Isra' itu dilakukan dengan ruh dan tubuh Beliau saw. dalam keadaan jaga, bukan dalam tidur Pendapat ini mereka dasarkan pada beberapa hal
- Tasbih dan ta'ajub yang terdapat dalam firman Allah Subhānalladi asră bi abdihi. Kalimat ini hanya terjadi dalam perkara-perkara besar. Oleh karena itu, andaikata Isra’ itu terjadi dalam ke-adaan tidur, berarti tidak memuat perkara besar lagi, yang karena nya tidak mengagungkan.
- Andaikata Isra itu dalam keadaan tidur, tentu orang-orang Quraisy tidak segera mendustakan beliau, dan tentu tidak menjadi murtad orang yang sebelumnya telah masuk Islam. Dan tentu, Ummu Hani pun takkan mengatakan, "Janganlah engkau menceritakan pada orang-orang itu, sehingga mereka nanti akan mendustakan engkau," dan tentu Abu Bakar takkan mendapatkan gelar utamanya, yaitu As-Siddiq. Dalam pada itu, menurut sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
لَقَدْرَأَيْتُنِي فِي الْحِجْرِ وَ قُرَيْشُ تَسْأَلَنِيْ عَنْ مَسْرَاى فَسَأَلَتْنِي عَنْ أَشْيَاء مِنْ بَيْتِ الْمُقَدَّسِ لَمْ أَثْبِتُهَا ( لَمْ أَعْرِفُهَا حَقَّ الْمَعْرِفَةِ) فَكَرِبْتُ كُرْبًا مَا كُرِبْتُ مِثْلَهُ قَطُّ فَرَفَعَهُ اللهُ لِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَمَا سَأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا الباتهم به . (الحديث)
"Sesungguhnya, pernah Aku mendapatkan diriku berada di al-Hijr (Ismail), sedangkan orang-orang Quraisy bertanya kepadaku mengenai isra’ ku itu. Mereka bertanya mengenai beberapa hal yang ada di baitul Muqaddas yang belum Aku ketahui benar, maka aku benar-benar repot yang tak pernah aku alamikerepotan seperti itu. Maka Allah pun mengangkat baitul Muqaddas itu untuk-Ku. Sehingga Aku dapat melihatnya, maka tak ada satupun yang mereka tanyakan padaku, kecuali aku berikan jawabannya kepada mereka"
- Sesunguhnya firman Allah SWT Bi’abdihi menunjukkan bahwa yang di Isra’ kan itu adalah ruh sekaligus tubunya Nabi Muhammad SAW.
- Menurut Abu Ja‘far At-Tabari, pendapat yang paling benar adalah bahwa peristiwa Isrā’ terjadi dengan jasad dan ruh Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, bukan hanya dengan ruh semata. Hal ini sesuai dengan bunyi ayat Al-Qur’an yang secara tegas menyebut Allah “memperjalankan hamba-Nya”, bukan ruh-Nya saja, serta dikuatkan oleh riwayat-riwayat sahih bahwa Nabi ﷺ dinaikkan ke atas Buraq hingga sampai ke Masjidil Aqsha dan salat bersama para nabi. Jika Isrā’ hanya berupa perjalanan ruh atau mimpi, maka peristiwa tersebut tidak lagi memiliki nilai mukjizat dan hujjah atas kenabian beliau, serta tidak akan menjadi sesuatu yang layak diingkari oleh kaum musyrikin.
- At-Tabari juga menegaskan bahwa penggunaan Buraq sebagai kendaraan menjadi bukti kuat bahwa Isrā’ melibatkan jasad, karena kendaraan hanya dibutuhkan oleh tubuh, bukan ruh. Oleh sebab itu, kesimpulan yang dipegang oleh mayoritas kaum muslimin adalah bahwa Nabi ﷺ benar-benar diisrakan secara nyata, dalam keadaan sadar, dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis, lalu kembali ke Makkah sebelum pagi hari, sebagai tanda kebesaran Allah dan penguat kebenaran risalah beliau.
Ibroh Isra’ Mi’raj
- Sesungguhnya dua perjalanan ini, yaitu perjalanan di muka bumi (Isra dan perjalanan ke langit (Mi'raj), kedua-duanya terjadi satu malam Yaitu setahun menjelang hijrah. Dengan peristiwa itu, Allah hendak di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa pula yang di menguji keimanan kaum mukminin dan mengetahui dengan jelas siaра dalam hatinya masih terdapat penyakit. Dengan demikian, orang-orang yang benar-benar beriman itulah yang patut menjadi sahabat Rasul yang terdekat sampai ke Darul Hijrah (Madinah), dan bernaung pada panjinya.
- Sesungguhnya Allah Ta'ala memperlihatkan kepada rasul-Nya tanda-tanda keagungan dan kebesaran yang terdapat pada alam semesta, baik di bumi atau di langit, agar semua itu menjadi pelajaran praktis dengan mengajari rasul-Nya lewat pemandangan dan penyaksian langsung. Karena pengajaran lewat penyaksian adalah cara mengajar yang paling berhasil.
- Sesungguhnya dalam peristiwa ini terdapat suatu pengertian yang pa-tut dipikirkan dan diperhatikan dalam-dalam, yaitu bahwa semua nabi ternyata bersatupadu di alam keluhuran di sisi Tuhan yang pernah mengutus mereka. Maka apakah tidak sepatutnya para pengikut me reka mengikuti jejak para utusan mereka, dan agar urusan yang terjad di antara mereka dijadikan perdamaian, bukan peperangan, dan aga syariat yang terakhir serta undang undang yang diubahnya mereka jadikan sebagai syariat, yang dengan itu diputuskan persengketaan di antara sesama manusia, sebagaimana yang dilakukan dengan tradisi undang-undang buatan manusia, bahwa yang dilaksanakan adalah undang-undang terakhir yang menghapus semua undang-undang sebelumnya.
Hikmah dari peristiwa Isra’ dan mi’raj
- Diwajibkannya melaksanakan sholat fardu lima waktu.
- Menumbuhkan dan meningkatkan keimanan kita terhadap kekuasaan Allah SWT yang Maha berkehendak.
- Menyakini bahwa setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan dari Allah SWT, dimana setiap cobaan tersebut juga dapat meningkatkan keimanan kita atas kuasa Allah SWT
- Mengetahui apabila kita melanggar perintah Allah maka Allah akan menghukum kita sesuai dengan apa yang kita lakukan.
- Mengetahui tentang tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Penulis: Rico Al Kurniawan
Editor: Faiksan
Komentar