Merawat Bumi, Mengkaji Tradisi: Refleksi Ekologi dan Kesarjanaan Barat dalam Studi Al-Qur'an dan Hadis

Pada tanggal 1–2 Juni 2026, Sekolah Tafsir Hadis STIU Darussalam Pakong, Modung, Bangkalan menyelenggarakan rangkaian kajian ilmiah yang membahas isu-isu keislaman kontemporer dari perspektif Al-Qur'an, hadis, dan studi akademik modern. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Muhammad Fathur Rozak, S.Ag., M.A., Achmad Zainulloh Hamid, Lc., M.A., dan Prof. Mun'im Sirry, M.A., Ph.D.

Pada Senin, 1 Juni 2026, sesi pertama diisi oleh Muhammad Fathur Rozak, S.Ag., M.A. yang menyampaikan materi berjudul “Ecological Fasād dalam Perspektif Diakronik.” Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa istilah fasād dalam Al-Qur'an tidak hanya berkaitan dengan kerusakan moral dan sosial, tetapi juga dapat dipahami sebagai kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia. Dengan menggunakan pendekatan diakronik, beliau menunjukkan perkembangan pemaknaan fasād dari para mufasir klasik yang menekankan aspek penyimpangan moral, kezaliman, dan peperangan, hingga para mufasir kontemporer yang mengaitkannya dengan persoalan pencemaran lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, perubahan iklim, dan berbagai krisis ekologis lainnya. Kajian ini menegaskan pentingnya peran manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan mencegah berbagai bentuk kerusakan di bumi.

Pada sesi berikutnya, Achmad Zainulloh Hamid, Lc., M.A. menyampaikan materi “Membaca Hadis sebagai Pedoman Laku Ekologis.” Beliau menjelaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh eksploitasi alam yang berlebihan, tetapi juga oleh krisis spiritualitas manusia. Melalui konsep ekoteologi Islam, peserta diajak memahami bahwa nilai-nilai tauhid, amanah, kekhalifahan, keseimbangan, dan kemaslahatan merupakan fondasi penting dalam membangun kesadaran ekologis. Berbagai hadis bertema lingkungan turut dikaji, seperti hadis tentang menghidupkan tanah mati, anjuran menanam pohon, larangan berlebih-lebihan dalam penggunaan air, serta konsep hima sebagai kawasan lindung. Kajian ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kajian Al-Qur'an, Prof. Mun'im Sirry memaparkan kontribusi sejumlah sarjana Barat seperti Theodor Nöldeke yang menyusun kronologi turunnya Al-Qur'an, Abraham Geiger yang mengkaji hubungan Al-Qur'an dengan tradisi Yahudi, serta John Wansbrough yang dikenal melalui pendekatan revisionis dalam meneliti asal-usul dan pembentukan Al-Qur'an. Selain itu, beliau menjelaskan perkembangan kajian Al-Qur'an kontemporer yang mencakup penelitian manuskrip kuno, kajian retorika dan struktur Al-Qur'an, studi Late Antiquity, serta hubungan Al-Qur'an dengan berbagai tradisi keagamaan sebelumnya.

Dalam pembahasan hadis, Prof. Mun'im Sirry menjelaskan pemikiran Ignaz Goldziher yang menyoroti perkembangan hadis pasca-Nabi, Joseph Schacht dengan teori sanad dan common link, serta Harald Motzki yang mengembangkan metode Isnad-cum-Matn Analysis. Kajian ini juga membahas konsep Living Tradition yang diperkenalkan Fazlur Rahman dan penelitian Jonathan Brown mengenai proses terbentuknya otoritas kitab Shahih Bukhari dalam sejarah intelektual Islam.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan ini memberikan wawasan yang komprehensif mengenai hubungan Islam dengan isu-isu kontemporer, baik dalam konteks lingkungan hidup maupun perkembangan studi akademik modern. Para peserta diajak untuk memahami bahwa ajaran Islam tidak hanya memberikan pedoman spiritual dan moral, tetapi juga menawarkan landasan etis dalam menjaga kelestarian alam serta mendorong pengembangan tradisi keilmuan yang kritis, terbuka, dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh kesadaran yang lebih kuat untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan tantangan kehidupan modern demi terciptanya kemaslahatan bersama.

  

Pemulis: M. Asroful Afan dan Choirul Ilham

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim