Hermeneutika sebagai Jalan Tafsir: Menimbang Sains dalam Penafsiran Al-Qur’an Kontemporer Oleh Prof. Dr. Akhsin Wijaya
Pengantar Pemikiran Prof. Dr. Akhsin Wijaya
Prof. Akhsin Wijaya sebagai salah satu dosen di UIN Sunan Kalijaga membuka seminar dengan refleksi personal. Beliau merasa sering diminta berbicara tentang hermeneutika hingga merasa “malu” karena tema itu terus melekat pada dirinya. Bahkan, beliau pernah mundur dari jabatan Wakil Rektor III demi kebebasan intelektual dan ruang refleksi yang lebih luas. Namun di balik itu, terlihat satu hal penting: beliau sangat hati-hati dalam membicarakan hermeneutika, terutama ketika dikaitkan dengan Al-Qur’an.
Hermeneutika dalam Perspektif Epistemologis
Beliau menjelaskan bahwa setiap kajian epistemologis selalu melibatkan tiga unsur:
- Subjek (yang memahami)
- Objek (yang dipahami)
- Metode/pendekatan yang digunakan
Dalam konteks Al-Qur’an, cara seseorang dalam memandang objek (Al-Qur’an) akan menentukan pendekatan yang ia gunakan. Jika ia meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah (wahyu ilahi), maka pendekatan yang digunakan adalah tafsir atau takwil.
Kendati deimikian, jika Al-Qur’an dipandang sebagai produk budaya, maka hermeneutika secara penuh bisa diterapkan. Beliau menegaskan bahwa ia tetap meyakini Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan, sehingga tidak serta-merta menggunakan hermeneutika dalam arti yang ekstrem. Namun menariknya, beliau tetap menggunakan metode hermeneutika objektif, yakni memahami teks dengan bertolak dari teks itu sendiri, hampir mirip dengan pendekatan ilmu nahwu dan kajian kebahasaan. Maksud dari diksi tersebut adalah Hermeneutika tidak selalu berarti merelatifkan wahyu, namun juga bisa menjadi alat memahami struktur dan esensi teks secara mendalam.
Kontekstualitas Al-Qur’an
Al-Qur’an pada awalnya hadir dalam bentuk oral (lisan) yang disampaikan oleh Nabi kepada masyarakat Arab. Dewasa ini, manusia hidup jauh dari konteks turunnya wahyu. Para aktor sejarahnya sudah tidak ada. Maka timbulah istilah dekontekstualisasi. Dari sinilah tantangan tafsir muncul: Bagaimana memahami teks yang lahir di abad ke-7 dalam realitas abad ke-21?
Sayangnya beliau memilih tidak memperpanjang diskusi hermeneutika teknis karena berpotensi problematis jika tidak dipahami secara matang.
Latar Belakang Penulisan “Islam Cinta”
Beliau kemudian menjelaskan motivasi penulisan karya-karyanya, terutama tentang Islam Cinta. Indonesia adalah bangsa yang majemuk, Keberagaman adalah kekayaan, tetapi juga mengandung potensi konflik jika tidak dirawat. Banyak konflik muncul: Kekerasan atas nama agama, Pembakaran rumah ibadah, Polarisasi karena perbedaan mazhab dan tafsir
Menurut beliau, konflik tersebut sering kali bukan semata-mata karena agama, tetapi karena watak manusia dalam memahami agama. Dan solusi yang ditawarkan adalah paradigma: Agama dalam Cinta dan Kasih Sayang
Siapa Itu Manusia?
Beliau memulai dengan pertanyaan antropologis.
Perspektif Filsafat
Plato: manusia adalah jiwa yang berjasad (substansi utama adalah jiwa)
Aristoteles: manusia adalah tubuh yang berjiwa
Freud: manusia dipengaruhi alam bawah sadar
Erich Fromm: manusia dibentuk oleh kesadaran dan watak berpikir
Abraham Maslow
Manusia memiliki lima kebutuhan dasar.Yang paling mendasar: kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, maka manusia adalah makhluk yang bercinta
Perspektif Al-Qur’an
ketika Allah menciptakan manusia dari tanah dan dimasukkan ruh di dalamnya, Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 172
وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ
"keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami),'"
dalam ayat ini, sejak dalam kandungan manusia telah bersaksi tentang Tuhan. artinya, Manusia adalah makhluk religius sekaligus makhluk cinta.
Islam sebagai Agama Cinta
Syekh Ali Jum’ah menyatakan: Islam adalah agama cinta. Mengapa? karena Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih. Penciptaan alam adalah ekspresi cinta Allah. Kasih sayang Allah bahkan melampaui keadilan-Nya. Rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
Dalam Al-Qur’an terdapat:
- 84 ayat tentang mahabbah serta banyak istilah rahmah
- 8 golongan yang dicintai Allah (orang adil, sabar, bertobat, dll.)
- 12 golongan yang tidak dicintai
Namun penting diketahui: Allah membenci perilaku, bukan selalu membenci pelakunya. Ini menjadi dasar etika sosial, kita tidak boleh membenci manusia secara total, hanya bisa menolak sifat buruknya.
Cinta kepada Tuhan dan Sesama
Jika mencintai Allah, maka harus mencintai sesama manusia. Membenci manusia berarti belum sempurna dalam mencintai Allah. Karena manusia adalah manifestasi ciptaan Allah, mencintai manusia adalah bagian dari mencintai Tuhan. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan agar tidak berlebihan mencintai dunia.
Cinta dalam Tasawuf
Ibnu Arabi: cinta sulit didefinisikan. Para sufi memahaminya melalui maqam dan hal.
Rabi’ah al-Adawiyah mencintai Allah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tetapi murni karena cinta.
Al-Ghazali dalam Ihya’ menjelaskan cinta sebagai kecenderungan dua subjek yang saling mengarah pada satu objek. Menurut beliau, ada tiga prinsip cinta:
- Mengenal objek
- Melalui pancaindra
- Ada dorongan kebaikan
Seni Mencintai
Mengutip Erich Fromm:
Cinta berarti memberi, bertanggung jawab, menghormati, dan merawat.
Abraham Maslow membedakan: Cinta memiliki (possession), Cinta
mengada (being-love)
Cinta memiliki bisa merusak (seperti memetik bunga).
Cinta mengada berarti merawat dan menghadirkan.
Dalam konteks sosial:
Jika ada konflik, cinta mengada berarti hadir untuk menyelesaikan,
bukan diam.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, terdapat beberapa poin yang bisa diambil:
- Cara kita memandang Al-Qur’an menentukan metode tafsir.
- Hermeneutika bisa digunakan secara objektif tanpa merelatifkan wahyu.
- Konflik agama sering lahir dari watak manusia dalam memahami agama.
- Manusia adalah makhluk cinta sekaligus makhluk religius
- Islam pada hakikatnya adalah agama cinta.
- Kasih sayang Allah melampaui keadilan-Nya.
- Mencintai sesama adalah bagian dari mencintai Tuhan.
- Cinta harus menjadi paradigma dalam memahami agama.
Komentar