RAJAB DI ANTARA LAMPU KOTA

Oleh: Sigit Dwi Riskiyanto

Lampu - lampu kota menyala seperti do'a yang tak pernah khusyuk. Terang, tapi berisik. Dari lantai lima asrama kampus, aku memandang jalan raya yang tak pernah tidur. Klakson, iklan digital, dan wajah - wajah yang berjalan tergesa - gesa semuanya bergerak seperti algoritma yang lupa makna. Di layar ponselku, linimasa bergulir tanpa henti: potongan hidup orang lain, tawa, debat, kemarahan, dan kepura - puraan yang dikemas rapi. Aku menutup layar itu perlahan. Malam Rajab terasa ganjil hening di dalamnya, dan riuh di luar.

Namaku Raka. Mahasiswa semester akhir di sebuah kampus Islam di pinggiran kota. Aku pernah menjadi santri selama tujuh tahun, menghafal matan, mengaji kitab, membersihkan kamar mandi pesantren sambil menggerutu dan tersenyum pada waktu yang sama. Pesantren telah mengajarkanku banyak hal, terutama satu: "bahwa ilmu bukan sekadar tahu, tapi tunduk". Namun kota mengajarkanku yang lain: "bahwa segalanya harus cepat, terlihat, dan diakui".

Bulan Rajab datang seperti pesan lama dari langit, tak banyak orang membuka, tapi ia setia mengirimkannya setiap tahun.

Di mushalla kampus, pengumuman kajian malam Jum'at tertempel di papan kayu: “Menyambut Bulan Rajab: Menata Cinta kepada Allah dan Sesamanya.” Pematerinya seorang kiyai sepuh dari pesantren tempatku dulu nyantri. Aku tersenyum kecil. Barangkali ini panggilan pulang, meski hanya sebentar.

***

Namanya Alya. Kami bertemu pertama kali di perpustakaan kampus, di antara rak - rak buku tafsir dan filsafat. Ia sedang duduk bersila, mencatat sesuatu dengan pulpen hitam. Jilbabnya sederhana, matanya tenang. Ia mengangkat wajahnya ketika aku mencari Buku Ihya’ Ulumuddin jilid cinta dan rindu.

“Di rak tasawuf, baris ketiga,” katanya lembut, seolah tahu apa yang kucari.

Sejak itu, kami sering bertemu. Bukan untuk pacaran, ahhh... kata itu terlalu sempit bagi apa yang kami bangun. Kami menyebutnya "berteman dalam do'a". Kadang kami berdiskusi tentang tugas kuliah, kadang tentang keresahan zaman, dan kadang hanya duduk diam di teras masjid kampus, menatap langit yang mulai kehilangan bintang.

Alya adalah anak pesantren juga. Ia hafal beberapa dawuh kiyai yang sering ia ucapkan seperti menata jiwa. “Kata Mbah Hasyim Asy’ari,” katanya suatu sore, “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu, ia tak menyala lama.”

Aku mengangguk. Dalam diam, aku menyadari bahwa kehadirannya membuatku lebih berhati - hati pada diriku sendiri.

Bulan Rajab membuat segalanya terasa lebih pelan. Di pesantren dulu, bulan ini selalu diisi dengan tirakat kecil: menambah wirid, mengurangi bicara, memperbanyak diam yang sadar. Dan Kiyai kami sering mengutip ayat:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ...

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan…” (QS. At-Taubah: 36)

“Rajab itu bulan Allah,” kata Kiyai. “Kalau kamu ingin tahu seberapa jujur cintamu pada Tuhan, lihat bagaimana sikapmu di bulan ini.”

Di kampus, Bulan Rajab sering berlalu tanpa disadari. Kalender akademik lebih nyaring daripada kalender hijriyah. Tapi Alya selalu mengingatkanku. Bahwa “Bulan Rajab itu bukan sekadar nama,” katanya. “Ia adalah pintu.”

***

Kami menghadiri kajian malam Jum'at itu bersama. Kiyai sepuh itu berjenggot putih, suaranya pelan tapi menembus hati, berdiri di mimbar dengan tongkat kecil. Ia memulai dengan shalawat, lalu berkata, “Anak - anakku, Rajab itu bulan menanam. Sya’ban menyiram. dan Ramadhan memanen.”

Ia mengutip hadis yang sering kami dengar di pesantren:

رَجَبُ شَهْرُ اللَّهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي

“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulannya umatku.”

“Kota ini,” lanjut Kiyai, “memang penuh dengan lampu. Tapi bukan soal cahaya terangnya, namun soal arahnya. Kalau cinta kalian hanya pada makhluk, maka kalian akan lelah. Kalau cinta kalian hanya mengaku pada Tuhan, tapi melupakan sesamanya, maka kalian akan kering. Oleh karna itu maka satukanlah.”

Aku melirik Alya. Ia menunduk, mencatat. Di antara baris - baris catatannya, aku tahu ada do'a yang ia sembunyikan.

Malam itu, hujan turun tipis. Kami berjalan berdua di koridor kampus. Tidak ada pegangan tangan, tidak ada janji yang dilontarkan. Hanya langkah yang diselaraskan.

“Raka,” katanya pelan, “pernahkah kamu takut mencintai?”

Aku terdiam. “Takut,” jawabku jujur. “Takut kalau cinta itu membuatku lupa arah.”

Alya tersenyum. “Mbah Bisri Musthofa pernah bilang, "Cinta itu seperti api. Kalau di dapur, ia memasak. Kalau di gudang, ia membakar.”

Kami tertawa kecil. Lampu kota memantul di genangan air. Aku merasa hangat, eits... bukan oleh romantisme murahan, tapi oleh kesadaran "bahwa cinta yang benar membuatmu lebih takut kepada Tuhan, bukan malah berani melanggar-Nya".

***

Beberapa hari kemudian, aku pulang ke pesantren. Alya menyusul di akhir pekan. Pesantren itu tak banyak berubah, dindingnya masih lembap, jam dindingnya masih berdetak terlalu keras, dan bau kitab tua masih setia. Santri - santri muda berlarian membawa kitab. Aku melihat diriku yang dulu pada wajah mereka.

Kami duduk di serambi masjid pesantren selepas Isya'. Kiyai memanggil kami. “Anak kampus,” katanya sambil tersenyum, “apa yang kalian cari di Bulan Rajab ini?”

Aku menjawab lirih, “Arah, Yai.”

Alya menambahkan, “Kejujuran dalam mencintai.”

Kiyai mengangguk. “Bagus. Ingat dawuh Al Imam Al - Ghazali: "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Maka dari itu Jangan terlalu sibuk mencintainya sebelum mengenalnya.”

Malam itu, kami mengikuti dzikir rutin Bulan Rajab. Asma - asma Allah dilantunkan pelan. Aku merasakan sesuatu yang lama hilang, yakni rasa tenang yang tak perlu diumumkan.

Di sela dzikir, Kiyai membaca ayat:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan orang - orang yang beriman itu sangat kuat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

“Cinta kepada Allah,” kata Kiyai, “akan memantul menjadi cinta kepada makhluk. Kalau tidak memantul, berarti bukan cinta, namun hanya sebatas perasaan.”

Aku menatap Alya. Matanya berkaca - kaca. Dalam diam, aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan menodai perasaan ini dengan ketergesa - gesaan.

***

Kembali ke kota, linimasa masih ribut. Tapi Bulan Rajab telah mengubah caraku melihatnya. Aku mulai lebih jarang berkomentar, lebih sering mendo'akan. Alya mengajakku membuat konten sederhana, eits... bukan untuk viral, tapi untuk berbagi. Kutipan ayat, dawuh kiyai, dan potongan refleksi. “Biar linimasa kita jadi ladang amal kecil,” katanya.

Suatu malam, aku menulis: “Cinta yang paling jujur adalah yang membuatmu ingin menjadi lebih baik, bukan sekadar yang hanya dimiliki.” Alya membalas dengan hadis:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Romantis?.... Mungkin. Tapi romantisme kami lahir dari tanggung jawab, bukan dari pelarian. Hehehe......

Kami sepakat menjaga jarak yang sehat. Bertemu seperlunya, berbicara seperlunya. Tidak ada kata "kita" yang berlebihan. Yang ada adalah "menuju".

Di akhir Bulan Rajab, aku menulis surat, eits.... bukan untuk Alya, tapi untuk Tuhan. Di dalamnya, aku mengaku takut, ragu, dan berharap. Aku menutup surat itu dengan do'a yang sering diajarkan Kiyai:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ketika aku menunjukkan surat itu pada Alya, ia tersenyum. “Kata Al Imam Asy Syafi’i,” katanya pelan, “Jika engkau mencintainya, maka jagalah. Jika engkau berharap, maka bersabarlah.”

Lampu kota masih menyala. Tapi di antara cahayanya, aku menemukan arah. Bulan Rajab mengajarkanku bahwa cinta tidak harus gaduh. Ia cukup jujur kepada makhluk, dan terlebih kepada Tuhan.

Dan di antara pesantren yang sunyi dan kampus yang sibuk, aku belajar: bahwa "cinta yang baik akan selalu mengantarkan kita pulang ke jalan yang lurus".

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim