SEJAUH DOA PARA GURU
Oleh: Sigit Dwi Riskiyanto
Subuh baru saja menyibak langit Pesantren An-Najjāh. Cahaya pertama subuh merayap melalui sela dedaunan asam jawa tua yang tumbuh tegak sejak masa para kiai pendiri. Embun yang menempel pada setiap helai rumput berkilau seperti serpihan kaca kecil, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh halaman tampak seperti lukisan yang hidup.
Dari kamar-kamar santri, terdengar suara sandal beradu dengan lantai semen. Para santri berlari kecil menuju masjid, membawa wajah setengah mengantuk namun berhias semangat yang tak pernah padam. Angin subuh yang lembut menerpa mereka, mengantarkan aroma kayu basah dan tanah yang baru terjaga.
Di antara ratusan langkah itu, ada langkah seorang santri bernama Fahri, santri dengan wajah teduh dan mata yang selalu berbinar ketika berbicara tentang ilmu. Ia tidak berlari, tetapi berjalan cepat, seakan ada magnet yang menariknya menuju masjid. Baginya, masjid adalah rumah kedua, tempat ia menemukan ketenangan yang tidak ia dapatkan di mana pun.
Saat adzan berkumandang:
"الصلاة خيرٌ من النوم"
“Shalat lebih baik daripada tidur.”
Fahri memejamkan mata sejenak. Kalimat itu seperti panggilan yang langsung masuk ke relung hatinya. Ia merasakan getaran kecil yang selalu ia rasakan setiap kali subuh datang, seakan Allah memanggilnya dengan lembut.
***
Setelah shalat Subuh selesai, seperti biasa, para santri melingkar di hadapan guru yang paling mereka hormati: Ustadz Saeful Amin seorang guru tafsir dan adab yang dikenal tegas, tapi hatinya selembut embun pagi. Usianya sekitar lima puluh tahun, namun raut wajahnya memancarkan kedamaian yang terasa menenangkan siapa pun yang melihatnya.
Pagi itu, beliau membuka kitab Tafsir Jalalain, menarik napas, lalu bersuara pelan namun mantap.
“Anak-anakku,” ucap Ustadz Saeful, “hari ini kita akan mengkaji ayat terakhir dari Surah Al-Fath.”
Beliau membaca dengan suara yang bergetar halus:
"مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ…"
"Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya…"
Setelah menutup kitab, beliau berkata, “Allah memuji para sahabat Nabi bukan karena kepintaran, bukan karena kekayaan, dan bukan karena jabatan mereka… tetapi karena mereka bersama beliau dalam adab, dalam perjuangan, dalam keteguhan.”
Pandangan beliau menyapu seluruh santri. Lalu berhenti tepat pada Fahri.
“Ilmu itu bukan apa yang hanya kau hafal,” lanjut beliau, “tapi apa yang membuatmu semakin dekat dengan adab Rasulullah.”
Kalimat itu jatuh ke dada Fahri seperti hujan yang disambut tanah kering. Ia menyimpannya dalam hati, tanpa tahu bahwa kalimat itu akan menjadi poros hidupnya kelak.
***
Hari-hari berjalan seperti biasa hingga dua minggu sebelum Hari Guru Nasional. Para santri senior mengadakan rapat di serambi asrama. Tahun ini, mereka ingin membuat peringatan Hari Guru yang berbeda. Tidak hanya sekadar membaca puisi atau drama seperti biasanya. Mereka ingin membuat sesuatu yang lebih bermakna.
Fahri duduk diam, mendengarkan berbagai pendapat yang saling bersahutan.
“Buat panggung besar saja!”
“Jangan, nanti jadi seperti konser!”
“Bagaimana kalau kita buat video?”
“Tidak ada ruh pesantrennya!”
Fahri mengangkat tangan pelan. Suaranya lembut tapi tegas.
“Aku punya usul,” katanya.
Semua langsung diam.
“Bagaimana kalau kita menghadiahkan sesuatu yang paling dicintai guru?”
“Apa itu?”
Fahri menunduk sedikit. “Ilmu. Kita buat khataman Al-Qur’an sepanjang malam, khusus untuk para guru. Tanpa mereka tahu.”
Ruangan hening.
Kemudian seorang santri berkata lirih, “MasyaAllah… usulan yang sangat indah.”
Yang lain menimpali, “Ini bukan sekadar hadiah. Ini hadiah langit.”
Semua sepakat.
Namun Fahri belum selesai. Ia menarik napas perlahan.
“Aku… ingin memberikan sesuatu kepada Ustadz Saeful secara pribadi.”
“Apa itu?”
“Do’a,” jawab Fahri. “Aku ingin meminta do’a khusus dari beliau.”
Para santri saling pandang. Mereka tahu betapa berharganya doa seorang guru. Namun tidak ada yang tahu bahwa permintaan Fahri berakar dari sebuah rahasia kelam dalam hidupnya.
***
Fahri sebenarnya membawa beban yang tidak diketahui siapa pun. Ayahnya, seorang buruh tani, telah menjual sawah kecil mereka demi membiayai Fahri mondok. Dan kini, ayahnya jatuh sakit parah. Fahri diam-diam bekerja di dapur pesantren, mencuci piring setiap malam untuk mengirim sedikit uang ke kampung.
Tidak ada yang tahu.
Termasuk Ustadz Saeful.
Di masjid, ketika semua tidur, Fahri membaca Surah Al-Insyirah:
"فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا"
Air matanya jatuh membasahi mushaf. Dalam hati ia berbisik:
“Ya Allah… beri aku kekuatan untuk belajar… meski hidupku berat…”
Ia ingin meminta do’a kepada Ustadz Saeful, tapi belum berani. Ia ingin guru itu tahu betapa ia mencintai ilmu dan pesantren.
Tapi takdir Allah bergerak dengan caranya sendiri.
***
Tiga hari sebelum Hari Guru, pesantren digemparkan oleh kabar bahwa Ustadz Saeful pingsan ketika mengajar.
Fahri berlari ke klinik pesantren, namun pintu ditutup. Pengurus melarang santri masuk.
“Beliau butuh istirahat.”
Fahri berdiri di depan pintu dalam diam, seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Malam itu, para santri berkumpul di masjid, membaca Yasin dan do’a bersama. Namun Fahri merasa seperti dadanya diremas. Ia takut… takut kehilangan kesempatan meminta do’a itu.
Dan lebih daripada itu: takut kehilangan gurunya.
***
Malam Hari Guru tiba.
Masjid gelap namun dipenuhi cahaya bacaan Qur’an. Tidak ada hiasan, tapi ruhnya terasa sangat hidup. Suara Qari bersahutan, ayat demi ayat mengalir seperti sungai.
Fahri membaca Ayat:
"يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ"
Dan ia berkata dalam hati:
“Ya Allah… hadiahkanlah hikmah ini untuk guru-guru kami…”
Saat malam semakin larut, pintu masjid membuka perlahan.
Ustadz Saeful masuk.
Para santri terkejut. Beberapa menahan tangis. Beliau tersenyum samar dan berkata:
“Kenapa berhenti? Teruskan… biar saya menikmati malam ini bersama kalian.”
Air mata menetes di pipi Fahri. Bagaimana mungkin guru yang sakit masih ingin bersama muridnya di malam penuh keberkahan itu?
***
Menjelang fajar, khataman selesai. Para santri menunggu do’a penutup. Ustadz Saeful bersandar pada tiang masjid. Tubuhnya tampak lemah, tapi matanya bersinar.
“Fahri,” panggilnya tiba-tiba. “Kemari.”
Fahri gemetar.
Ia duduk di samping gurunya. Ustadz Saeful memegang tangannya.
“Nak… wajahmu seperti langit yang menahan hujan. Ceritakan apa yang kau pendam.”
Dan di sanalah, Fahri mengeluarkan segala beban hati: tentang ayahnya, tentang rasa bersalahnya, tentang pekerjaannya di dapur, tentang kesulitannya.
Ustadz Saeful mendengarkan tanpa memotong.
Saat cerita selesai, beliau berkata:
“Anakku… Allah tidak membebanimu di luar kemampuanmu.”
Lalu beliau membaca:
"لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا"
Fahri menangis.
Kemudian, beliau berkata:
“Mulai malam ini… kau tidak perlu bekerja di dapur.”
Fahri terkejut. “Lalu… saya harus bagaimana, Ustadz?”
“Mulai malam ini, engkau menjadi khadim pribadi saya.”
Para santri sontak berdesis kagum. Itu adalah kehormatan besar.
Fahri tak kuasa berkata apa pun.
Ia hanya menangis.
***
Seminggu menjadi khadim membuat hidup Fahri berubah. Ia belajar banyak hal dari Ustadz Saeful: tentang sabar, tentang tawakal, tentang adab. Beliau menanamkan pelajaran kehidupan yang tidak ada di kitab mana pun.
Namun takdir masih menyiapkan ujian lain.
Surat dari kampung datang. Ayahnya kritis.
Fahri bimbang: pulang atau tetap mondok.
Ia menemui gurunya.
Dan di pagi yang sejuk, Ustadz Saeful memberikan jawaban yang mengubah hidupnya.
“Fahri,” katanya lembut, “pulangkanlah dirimu kepada orang yang paling berhak atas dirimu.”
“Ayahmu.”
Air mata Fahri mengalir.
“Tapi jangan takut kehilangan ilmu. Kau akan kembali.”
“Dan biaya mondokmu… biar kami yang tanggung.”
Fahri menangis tersedu-sedu. Guru itu menghapus air matanya.
“Kau tidak pergi meninggalkan adab. Kau membawa adab itu pulang.”
***
Pagi keberangkatan tiba.
Ustadz Saeful memberikan Fahri sebuah kitab kecil berisi catatan - catatan tafsirnya.
“Ini bukan hadiah,” katanya. “Ini amanah.”
Fahri mencium tangan gurunya lama sekali. Ia tak ingin melepaskannya.
“Ustadz…”
“Pergilah, Nak. Dan kembalilah saat hatimu siap.”
Saat mobil berangkat, Fahri memandang pesantren yang menjauh. Angin pagi menerbangkan rasa haru yang tak bisa ia bendung. Ia membuka halaman pertama kitab itu.
Tertulis:
“Barang siapa adabnya terjaga, maka pintu langit dibukakan baginya.”
Fahri menutup mata, memeluk kitab itu, dan berkata dalam hati:
“Ustadz… saya pulang bukan untuk pergi. Tapi untuk kembali dengan hati yang lebih kuat.”
Di kejauhan, Ustadz Saeful memandangi kepergian murid kesayangannya sambil tersenyum.
Senyum seorang guru yang tahu…
Bahwa perjalanan seorang murid baru saja dimulai.
Tamat......
Komentar