POLITIK DAN EKSPANSI ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

Dinasti Abbasiyah muncul sebagai jawaban dari berbagai ketidakpuasan yang berkembang pada masa akhir kekuasaan Umayyah. Masyarakat muslim ketika itu menghadapi ketegangan sosial dan politik yang kuat, terutama karena perbedaan perlakuan antara kaum Arab dan non-Arab (mawali). Para mawali, meskipun telah memeluk Islam, sering diperlakukan sebagai kelas kedua dan tidak memiliki akses yang sama dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Selain itu, perselisihan antar suku Arab, khususnya antara Arab Utara dan Arab Selatan, membuat kestabilan politik semakin rapuh. Kelompok-kelompok keagamaan seperti Syiah, yang merasa hak kepemimpinannya diabaikan sejak wafatnya Nabi, turut memperkuat gelombang kritik terhadap pemerintahan Umayyah.

Dalam suasana inilah Bani Abbas -keturunan paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib- membangun gerakan politik yang rapi dan perlahan-lahan mendapat dukungan luas. Melalui propaganda yang dijalankan secara sistematis, terutama oleh tokoh-tokoh seperti Abu Salamah dan Abu Muslim al-Khurasani, kekuatan Bani Abbasiyah berhasil menggulingkan pemerintahan Umayyah pada tahun 750 M. Dari titik inilah sejarah Islam memasuki salah satu masa paling bersinar yang pernah dicapai -masa Dinasti Abbasiyah.

Setelah berkuasa, Abbasiyah tidak hanya melakukan pergantian kekuasaan, tetapi juga membawa semangat baru dalam pengelolaan negara. Salah satu perubahan paling penting adalah arah politik yang lebih inklusif. Jika pada era Umayyah dominasi Arab sangat kuat, Abbasiyah justru membuka ruang bagi masyarakat non-Arab seperti Persia dan Turki untuk berperan dalam birokrasi, militer, dan kebudayaan. Akibatnya, Baghdad -kota baru yang dibangun sebagai ibu kota-, tidak hanya menjadi simbol pemerintahan, tetapi berkembang menjadi pusat peradaban dunia.

Pada masa pemerintahan Al-Mansur, Baghdad mulai tumbuh sebagai kota modern dengan tata ruang yang megah dan tertata. Pemerintahan dibangun dengan struktur yang lebih rapi. pada saat ini, muncul jabatan wazir, sekretariat negara, lembaga penyelidikan keluhan rakyat, hingga pengaturan protokol kenegaraan. Konsolidasi politik yang kuat ini membuat Abbasiyah memasuki fase stabil yang menjadi fondasi bagi lahirnya kemajuan-kemajuan besar selanjutnya. Ketika Harun al-Rasyid naik tahta, kemakmuran semakin terlihat. Kekayaan negara digunakan untuk mendukung lembaga pendidikan, pembangunan rumah sakit, pusat riset, masjid, dan fasilitas umum lainnya. Posisi Baghdad sebagai pusat ilmu semakin kuat di masa putranya, Al-Ma’mun, yang dikenal sebagai khalifah pecinta ilmu.

Pada masa Al-Ma’mun inilah Baitul Hikmah tumbuh menjadi pusat pengetahuan terbesar di dunia. Para ilmuwan dari berbagai wilayah datang membawa karya, melakukan penelitian, dan menerjemahkan naskah-naskah penting dari bahasa Yunani, Persia, India, dan Syria. Gerakan penerjemahan ini tidak hanya menghidupkan kembali ilmu-ilmu klasik yang sempat terlupakan, tetapi juga mendorong munculnya karya-karya baru yang lebih orisinal. Dari sinilah lahir tokoh penting seperti Al-Khawarizmi, ydang dikenal dengan bapak aljabar, Al-Fazari dalam bidang astronomi, Al-Razi dan Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, serta para ahli lain yang karya-karyanya masih dipelajari hingga sekarang.

Selain bidang keilmuan, ekonomi Abbasiyah juga mengalami kemajuan besar. Pertanian menjadi salah satu sektor yang sangat maju berkat pembangunan sistem irigasi di wilayah Sawad, daerah subur antara Sungai Efrat dan Tigris. Kanal-kanal besar seperti Nahr Isa dan kanal Sharah dibangun untuk memastikan air dapat mengalir ke lahan pertanian secara stabil. Hasilnya, produksi pangan meningkat pesat. Gandum, beras, kurma, wijen, kapas, hingga tanaman rami menjadi komoditas penting yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga diperdagangkan ke luar negeri.

Jaringan perdagangan Abbasiyah mencakup wilayah yang sangat luas. Kapal-kapal dagang berlayar dari Teluk Persia menuju India, Cina, dan Asia Tenggara, membawa rempah-rempah, buah kering, tekstil, gula, serta berbagai komoditas lain. Dari Afrika Timur, mereka mengimpor gading, logam, dan kayu hitam. Selain memperkuat ekonomi, aktivitas perdagangan ini juga mempertemukan berbagai budaya dan memperkaya pengetahuan masyarakat.

Pendapatan negara yang meningkat membuat pemerintah memiliki ruang untuk mengembangkan layanan sosial. Pengelolaan zakat dan pajak dijalankan dengan sistematis dan diarahkan untuk kesejahteraan rakyat, termasuk bantuan untuk fakir miskin, pejuang, musafir, dan pembangunan fasilitas umum. Tidak mengherankan bila pada masa ini banyak masyarakat yang menikmati kondisi hidup yang relatif makmur.

Namun, kemajuan besar ini tidak selalu bertahan selamanya. Setelah memasuki fase pertengahan, Abbasiyah mulai menghadapi tantangan-tantangan berat. Perebutan kekuasaan, melemahnya kontrol pusat, serta munculnya dinasti kecil di berbagai wilayah membuat kekuatan Abbasiyah berangsur menurun. Pengaruh asing dalam struktur militer juga semakin besar, terutama dengan naiknya dominasi pasukan Turki. Pada periode akhir, kekuasaan Abbasiyah semakin melemah dan pada tahun 1258 M, serangan Mongol ke Baghdad menghancurkan pusat peradaban Islam tersebut.

Meski demikian, warisan Dinasti Abbasiyah tetap hidup hingga kini. Perkembangan ilmu pengetahuan yang mereka bangun menjadi fondasi bagi kemajuan sains modern. Sistem pemerintahan yang mereka susun memengaruhi model administrasi banyak kerajaan sesudahnya. Sedangkan warisan kesusastraan, filsafat, dan tradisi intelektual mereka memberi warna penting dalam peradaban dunia.

Dari latar belakang pendiriannya, perjalanan kejayaannya, hingga keruntuhannya, Dinasti Abbasiyah menunjukkan bahwa peradaban akan berkembang ketika ilmu dihargai, ketika keadilan sosial diperhatikan, dan ketika masyarakat diberi ruang untuk berkontribusi. Meski waktu telah berlalu berabad-abad, kisah Abbasiyah masih menjadi inspirasi bagaimana sebuah bangsa dapat tumbuh melalui ilmu dan keterbukaan, serta bagaimana kemunduran dapat terjadi ketika persatuan melemah dan konflik dibiarkan berkembang. Pada akhirnya, Dinasti Abbasiyah tetap dikenang sebagai puncak kegemilangan Islam; masa ketika Baghdad bukan hanya pusat politik, tetapi pusat cahaya bagi seluruh dunia.

 

Penulis: Nurul Fathilah dan Nurul Intan Zanubah

Editor : Nurul Intan Zanubah


Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim