DELEGASI HMP IAT IAF MENGIKUTI SEMINAR INSPIRATIF TEMA: HIRAERKI DALAM PESANTREN TAFSIR AYAT-AYAT KEPEMIMPINAN DALAM KONTEKS FEODALISME KULTURAL

Awal mula konsep pendidikan yang berbasis pesantren pada zaman sekarang, sudah terrjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Yakni sejarah Ahlusshuffah yang dibawa kepemimpinan Abu Hurairah, yang terletak dibagian belakang Masjid Nabawi tempat bernaung yang disediakan bagi semua orang orang tidak memiliki rumah, harta, dan sanak keluarga. 

Kebanyakan sebagian besar penghuninya adalah orang Muhajirin yang berjumlah 70 sampai 80 orang. Bentuk kepedulian terhadap shahabat yang tinggal di Ahlussuffah adalah sosok Nabi Muhammad SAW suri tauladan ummat Muslim yang menjaga, mengunjungi dan memberikan hartanya yang ikhlas ber-Khidmah melayani untuk mencukupi kebutuhannya, dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab totalitas untuk kebutuhan dan makanan shahabat Ahlussuffah. Begitupula para shahabat yang bertempat tingggal di serambi-serambi Masjid tersebut sangat menghormati, penuh rasa Ta’dzim, dan memuliakan Rasulullah SAW Khususnya, para pengajar pada umumnya yang mengajarkan pelbagai macam keilmuan, dengan Ikhlas dan tanpa pamrih Sehingga sebuah sejarah dari shahabat Ahlussuffah yang dapat menjadikan rujukan bahwa sistem pesantren di Nusantara ini bukan, dan tidak disebut Feodalisme yang lebih mengarah pada tuan tanah, memperbudak seseorang. 

Akan tetapi sistem pesantren lebih terciptanya konsep Tabarrukan (Mencari keberkahan), dari sosok penuntun, pengajar, pembimbing untuk menghantarkan dalam pemahaman Agama Islam. Yang mana seorang Syekh/Kyai tanpa pamrih dalam mengajarkan keilmuan ajaran Islam, bahkan tidak ada perintah dari sosok Syekh/Kyai untuk menghormatinya, akan tetapi sebagai seseorang murid sangat menghormati disetiap kegiatan sehari hari yang melekat dalam kultural kehidupan Pesantren sampai zaman sekarang. Sehingga tidak bisa dikatakan Hierarki yang besewewenang atas kekuasaanya sendiri, akan tetapi memiliki wibawah, marwah untuk memimpin kepemimpinan dalam pembelajaran dalam Pesantren, dengan penuh keikhlasan secara بُكْرَةً وَأَصِيلًا sepanjang pagi dan malam. 

Bentuk sistem Pesantren yang terjadi di Nusantara didirikan pertama kali oleh Wali Songo yang secara jelas mensyiarkan ajaran Agama Islam yang tetap memakai tradisi budaya setempat tanpa adanya pertentangan dalan adat istiadat, akan tetapi menyelaraskan kebudayaan dengan ajaran Agama Islam. Seperti kisah Sirah Nabawiyah tentang Rasulullah SAW mencium tangan shabat Muadz bin jabal, Suatu ketika, Rasulullah SAW melihat tangan seorang sahabat yang melepuh, kapalan, dan menghitam akibat bekerja keras. Rasulullah SAW bertanya, "Kenapa tanganmu begitu kasar?" Sahabat itu menjawab, "Aku mencari nafkah untuk keluargaku, ya Rasulullah. Aku membelah batu dan bekerja keras". Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW kemudian memegang tangan sahabat itu, dan menciumnya seraya bersabda: "Inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api neraka.". 

Tindakan Rasulullah SAW mencium tangan sahabat yang bekerja keras tersebut menunjukkan betapa mulia dan terhormatnya pekerjaan mencari nafkah yang halal dan jujur dalam Islam, bahkan pekerjaan kasar sekalipun secara ikhlas dan penuh ketekunan dalam bekerja untuk menghidupi keluarganya, landasan dalil Hadis: 

 عن عبد الله بن عمر رضي الله تعالى عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Di riwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Allah Sang Maha Pengasih, Kasihilah siapapun di bumi maka yang di langit akan mengasihimu. 

Penafsiran Aktual dari Q.S An Nur : 63 

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِةٍ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (dari majelis Nabi) di antara kamu secara sembunyi-sembunyi dengan berlindung (kepada kawan kawannya). Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah (bencana/ujian) atau ditimpa azab yang pedih. Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang diam-diam meninggalkan majelis Nabi Muhammad SAW tanpa izin, dan peringatan keras dari Allah SWT bagi mereka yang menentang perintah-Nya, bahwa mereka bisa ditimpa musibah (fitnah) atau azab yang pedih. Implementasinya bahwa jikalau ada seseorang Masyarakat menjustifikasi bahwa system pesantren adalah feodalisme yang menganggap perbudakan seorang Kyai terhadap Santri maka dia termasuk orang yang menyalahi, berlindung dengan anggapan seperti ini, dengan demikian feodalisme kultural di pesantren tidak lagi dianggap benar!



Penulis: Muhammad Rico Al Kurniawan


Editor: Faiksan


Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim